3 Hotel Bersejarah di Jakarta

3 hotel bersejarah yang ada di Jakarta, memiliki cerita sejarah sejak awal berdirinya. Hingga sekarang hotel ini masih melayani tamunya dengan berbagai macam fasilitas yang kian berkembang.

3 Hotel Bersejarah di Jakarta

3 Hotel Bersejarah di Jakarta

Hotel atau hostel, kata ini awalnya berawal dari Bahasa Perancis yang berarti tempat penampungan untuk pendatang. atau bisa juga “bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum”. Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat atau para perantau.

Namun, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan inap-makan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah. Di Jakarta juga ada 3 Hotel Bersejarah yang berada di Jakarta, hotel-hotel ini memiliki cerita yang menarik dan masih beroperasi hingga saat ini, jika kita meginap di dalamnya kita akan merasakan kembali sejarah banguan hotel-hotel ini.

Hotel Sriwijaya

travelingyuk.com

Hotel Sriwijaya terletak di Jalan Veteran No. 1 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Hotel ini todak berada jauh dari sebelah kanan Masjid Istiqlal dan hampir mendekati Toko Es Krim Ragusa. Awalnya, hotel yang dimiliki oleh Conrad Alexander Willem Cavadino (CAW Cavadino) ini merupakan sebuah restoran. Cavadino memulai usaha restoran, roti/kue dan toko pada tahun 1863. Selama sembilan tahun, usaha tersebut makin berkembang pesat. Di tahun 1872 restoran Cavadino berubah menjadi Hotel Cavadino lalu usaha ritelnya dipindahkan di depan bangunan hotel mereka dan diberi nama Toko Cavadino. Toko tersebut menyediakan permen, coklat, cerutu Havana, Belanda dan Manila hingga bir, anggur serta minuman beralkohol lainnya.

www.booking.com

Seperti yang kita ketahui, pada zaman kolonial di Jakarta, banyak orang Belanda maupun Eropa lainnya yang tinggal di Batavia. Hotel Cavadino ini sempat bertahan sampai tahun 1898, dan sejak 1899 hotel itu berubah nama menjadi Hotel du Lion d’Or. Lalu pada 1941 hotel tersebut berubah lagi namanya menjadi Park Hotel. Kemudian, sekitar pertengahan tahun 1950-an hotel ini berganti nama menjadi Hotel Sriwijaya hingga saat kini. Bangunan dari hotel ini kemudian terpaksa diubah di tahun 1999, pada waktu itu, dikawatirkan roboh bila tidak segera diperbaiki. Karena kondisi kayu jatinya yang sudah lapuk dimakan rayap. Halaman depan hotel itu kini adalah bagian samping hotel di masa lampau. Di lobi hotel seluas sekitar 5.000 m2 ini, terpampang potret kuno dari Hotel Cavadino dan Toko Cavadino beserta sejarahnya. Tak hanya itu, ternyata di dinding bagian dalam juga berjajar foto-foto tempat dan gedung bersejarah di Batavia di hotel bersejarah ini. Hingga saat ini Hotel Sriwijaya masih beroperasi dan melayani tamu-tamunya.

 

Hotel Indonesia – Kempinski

Hotel Bersejarah

http://www.thejakartapost.com

Hotel Indonesia adalah hotel bintang 5 pertama yang dibangun di Jakarta, Indonesia. Hotel ini diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1962 oleh Presiden RI Pertama, Soekarno untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962. Bangunan Hotel Indonesia ini dirancang oleh arsitek Abel Sorensen dan istrinya, Wendy, yang berasal dari negeri Paman Sam. Menempati lahan seluas 25.082 meter persegi, hotel ini mempunyai slogan A Dramatic Symbol of Free Nations Working Together. Hotel ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemda DKI dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tanggal 29 Maret 1993.

Berawal dari kunjungan Soekarno Amerika, Di New York ia mengunjungi gedung PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan dia terkagum dan mencari arsiteknya yaitu Abel Sorensen. Sang Plokamator percaya arsitektur itu bisa mengilhami kebangkitan jiwa, dan Hotel Indonesia adalah bagian dari apa yang dia percaya dapat membangkitkan jiwa masyarakat Indonesia. Ir, Soekarno pernah berpidato, ia menyebut Hotel Indonesia adalah wajah muka Indonesia, dan judul pidato saat peresmian Hotel Indonesia pada 5 Agustus 1962 adalah `Tunjukkanlah Kepribadian Indonesia`, Jadi, Hotel Indonesia menurut Soekarno konsepnya adalah bagian dari politik nasional pada masa itu yang disebut Trisakti, salah satu trisakti itu adalah berkepribadian dalam kebudayaan.

Hotel Bersejarah

www.thejakartapost.com

Hotel Indonesia pada masanya merupakan hotel termegah di Asia Tenggara dan Hotel ini juga menjadi pusat berbagai kegiatan budaya. Mulai dari acara musikal dan pertunjukan teater secara rutin yang dipen taskan di hotel. Acara kebudayaan yang rutin digelar telah melambungkan beberapa nama seniman ternama Indonesia. Di antaranya, Teguh Karya yang dulu merupakan manajer panggung Hotel Indonesia, Rima Melati dan Slamet Rahardjo. Dulunya bangunan 16 lantai ini berisi 500 kamar tidur, dan sekarang jumlahnya tak lagi lebih dari 300. Karya seni sejarah selalu menyapa tamu hotel, relief kehidupan Bali pun seluas 68 meter dikerjakan oleh 53 seniman hingga kini tetap terjaga pahatannya dengan baik.

Sejumlah ucapan dan pernyataan Bung Karno tercantum rapi disudut ruangan Hotel Indonesia. Waktu terus maju kedepan, namun benda-benda di hotel bersejarah dan antik masih terpapampang apik di Heritage Room, dari gunting peresmian yang digunakan Soekarno dan satu set alat makan yang digunakan waktu pembukaan hotel, hingga lift pertama di Indonesia yang hanya memuat 4 orang pun ada di hotel ini.

 

Hotel Hermitage

hotel bersejarah

www.ayonews.com

Alih-alih seram bangunan lawas ini justru memukau dengan nuansa kolonialnya yang menawan dan klasik. Hotel Hermitage yang berlokasi di, Jalan Cilacap, No. 1 Menteng, letaknya tidak jauh dari Pasar Antik di Menteng. Bangunan ini merupakan peninggalan Belanda sejak tahun 1923, dulunya bangunan ini berfungsi  sebagai kantor telekomunikasi yang disebut `Telefoongebouw` pada masa pemerintahan Belanda.  Setelah Indonesia merdeka, Telefoongebouw dimanfaatkan untuk kantor Departemen Pendidikan dan Pengajaran, pernah juga menjadi kantor Presiden Sukarno, dan sempat jadi kampus Universitas Bung Karno hingga akhir 1990-an. Baru pada 2008, salah satu bangunan cagar budaya ini diambil alih PT Menteng Heritage Realy dan digubah menjadi hotel bintang lima. Hotel ini diresmikan Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama awal Juni 2o14,

PT Menteng Heritage Realy memanfaatkan bangunan lama dari gedung ini , PT Menteng Heritage Realy tentu wajib mematuhi aturan pemerintah: tidak boleh mengubah arsitektur bangunan. alhasil, gedung inti seluas 11.400 meter persegi tak dirombak oleh kontrakto, melainkan hanya dipersolek pada beberapa bagiannya saja. Arsiteknya adalah Tom Elliot dari PAI Design. “Satu batu bata pun tak boleh diganti,” kata kepala kontraktor,  jadi gedung ini masih berdiri dengan kokoh dengan tiang pancang aslinya dan membuatnya menjadi salah satu hotel bersejarah dan menjadi salah satu cagar budaya di Jakarta. Gedung inti Hotel Hermitage ini memiliki dua lantai pola letter U. Arsitektur art deco  yang diterapkan di Hotel Hermitage ini terlihat dari bentuk jendela dan pintu yang besar menjulang serta dari kotak ventilasi. Layaknya kebanyakan bangunan peninggalan Belanda, gedung inti didominasi warna putih, yang membuat kesan megah. Pada zaman dulu, bangunan putih sendiri menyimbolkan status ekonomi pemiliknya, yang kebanyakan ningrat. Sentuhan modern dimunculkan dari lis kayu warna cokelat beraksen kaca di dinding.

hotel bersejarah

http://www.jdlines.com

Dikarenakan gedung ini tidak begitu besar luasnya, manajemen membuat bangunan baru berisi 90 kamar di bagian tengah yang dulunya berupa taman. Dengan desain art deco, bangunan baru mencontek persis desain interior gedung lama, baik bentuk pintu, teralis, jendela, dan ventilasi. Bahkan motif karpet yang digelar di kamar hotel mirip dengan ubin di bangunan lama. Kamar di Hotel Hermitage yang bertarif Rp 2,7-44 juta per malamnya ini didesain seperti rumah bangsawan.  Gedung utama dimanfaatkan sebagai lobi utama, resepsionis, aula, lounge, juga kafe. Yang menjadi tempat favorit adalah Courtyard Cafe. Dekorasi kafe itu dibuat sedemikian rupa hingga membuat tamu merasa seperti nongkrong di Eropa. Ada juga Cigar Room, ruang santai bergaya eklektik dengan dominasi perabot hitam dan cokelat tua. Sentuhan klasik pada ruangan ini disumbang gorden emas. Sejumlah lukisan perempuan Jawa berkebaya pun dipampang di beberapa ruang utama. Perempuan berkulit sawo matang pada lukisan itu ada yang sedang bergaya duduk sambil melamun, ada pula yang sedang berdandan. “Lukisan perempuan Jawa itu menyimbolkan sosok tuan rumah yang menyambut tamunya,”.

Inilah bermacam hotel bersejarah di Jakarta, jika kita sedang berlibur atau hendak mengadakan acara, hotel diatas bisa menjadi pilihan kita, disamping nilai historis yang dimiliki hotel tersebut, lokasi hotel bersejarah tersebut berada di kawasan yang strategis dan mudah dijangkau.

pinjaman uang online cepat cair

Write a Comment

view all comments


Warning: Illegal string offset 'rules' in /home/forge/blog.danabijak.com/wordpress/wp-content/themes/portus-premium-theme/functions/filters.php on line 57

Warning: Illegal string offset 'rules' in /home/forge/blog.danabijak.com/wordpress/wp-content/themes/portus-premium-theme/functions/filters.php on line 62

%d bloggers like this: