Mengapa Aplikasi Path yang (Sempat) Populer Terpaksa Tutup?

Siapa yang tidak tahu Path? Di kalangan anak muda, aplikasi ini merupakan salah satu aplikasi paling dikenal dan mewarnai kehidupan para remaja. Namun, Path akhirnya tutup di tahun 2018 dikarenakan beberapa alasan. Lalu, apa sajakah alasan aplikasi yang sempat populer ini tutup?

Mengapa Aplikasi Path yang (Sempat) Populer Terpaksa Tutup?

Mengapa Aplikasi Path yang (Sempat) Populer Terpaksa Tutup?

Di kalangan milenial, Path merupakan aplikasi yang terkenal sempat booming dan memberikan segala warna yang ada. Bisa dikatakan, aplikasi ini merupakan aplikasi yang memang mirip dengan Facebook, namun bedanya, aplikasinya lebih kecil dan memiliki lingkar pertemanan yang lebih kecil daripada Facebook. Path juga dikenal sebagai “Mini Facebook” akibat dari aplikasinya yang mirip dengan Facebook tersebut, namun dengan lingkar pertemanan yang lebih kecil. Bahkan, bisa dikatakan aplikasi ini cukup dikenal di dunia media sosial, populer bersama aplikasi-aplikasi seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Soundcloud, Line, Whatsapp hingga Snapchat.

Namun, pada 17 September 2018 lalu, Path memutuskan untuk menutup aplikasinya. Perusahaan yang awalnya dibentuk oleh Dave Morin, Shawn Fanning dan Dustin Mierau ini pun menegaskan bahwa akan menutup aplikasi tersebut pada tanggal 18 Oktober 2018. Dengan begitu, aplikasi yang sempat populer ini pun harus tutup. Lalu, apa penyebab Path memutuskan untuk menutup aplikasinya, padahal penggunanya pun banyak?

Ingkar Konsep

path

Sumber : Inet.detik.com

Bisa dikatakan, pengingkaran konsep merupakan awal kejatuhan Path. Pada awalnya, aplikasi ini mempunyai konsep untuk membatasi pertemanan hingga 150 orang saja untuk 1 akun. Hal ini memang diperlukan, agar orang-orang mempunyai privasi tersendiri dalam akunnya. Namun, keputusan “Mini Facebook” ini nantinya akan membuat sebuah kejatuhan yang cukup kencang.

Aplikasi ini pun memutuskan untuk membuat satu akun mempunyai 500 teman sebagai batasan, dan merupakan awal kejatuhan. Konsep pun diingkari. Memang, adanya perubahan-perubahan memang dibutuhkan oleh aplikasi, seperti Twitter yang memutuskan untuk satu postingan bisa dari 120 kata menjadi 240 kata, Instagram yang membuat konsep story, hingga Youtube memunculkan konsep live video. Namun, konsep Path ini gagal total.

Tak Ada Inovasi yang Signifikan

Path

Sumber : Wired.com

Tak mempunyai inovasi yang signifikan berhasil membunuh Path secara perlahan namun pasti. Mengapa? Karena aplikasi lainnya pun juga mempunyai inovasi yang sama dengan aplikasi tersebut. Aplikasi ini juga mengunggulkan salah satunya adalah pemasangan status sedang apa, lalu sedang dimana, sedang mendengar lagu apa, dan lain-lain, padahal aplikasi lain juga sudah mempunyai fitur yang sama.

Sebut saja Instagram yang sudah mempunyai fitur story sedang apa, ditambah lagi mempunyai fitur live untuk sekarang ini. Aplikasi Facebook pun juga bisa membuat status sedang apa, walaupun sekarang ini orang-orang yang melakukan hal itu sudah jarang. Pada kenyataannya, Path memang sudah tertinggal jauh dari aplikasi lainnya, dan memang hanya menunggu ajal menjemput jika tidak mempunyai inovasi.

Pengguna pun (Akhirnya) Semakin Sepi

Path

Sumber : imore.com

Akibat dari 2 masalah diatas, tidak terasa pengguna dari aplikasi ini pun makin lama makin turun, dan banyak yang berpindah ke Instagram, Twitter hingga Facebook karena aplikasi ini memang tidak ada inovasi yang baru. Hal ini pun membuat pemasukan Path yang biasanya berasal dari iklan atau pun stiker premium, lama-lama hilang pendapatannya karena penggunanya yang hilang.

Akibat lainnya juga adalah aplikasi ini mempunyai ukuran yang cukup besar, hingga terakhir kali mencapai kurang lebih 30 MB, padahal ini untuk awal download. Bisa jadi nanti saat penggunaannya lebih dari sebulan, bisa sampai ratusan MB! Tentunya hal ini mendorong orang-orang untuk mulai memutuskan uninstall Path.

Kegagalan Bersaing dengan Aplikasi Media Sosial Lainnya

path

Sumber : Tekno.kompas.com

Persaingan antar media sosial pun nyata. Bahkan, persaingannya pun bisa hingga memakan aplikasi-aplikasi, seperti apa yang Instagram lakukan terhadap Snapchat, yang mengambil fitur utama dan keunggulan Snapchat, yakni adanya story dan bisa mengirim foto-foto tertentu. Ditambah lagi, Facebook dan Whatsapp memunculkan fitur story sehingga keunggulan utama Snapchat pun perlahan-lahan diambil orang-orang.

Dan sayangnya, persaingan aplikasi media sosial ini memakan korban besarnya, yakni Path. Dengan keunggulan mengunggah status sekarang, fitur tersebut sudah diambil oleh banyak aplikasi besar, seperti Instagram dan Whatsapp. Hal ini pun juga menghancurkan Path secara sangat perlahan.

Nah, Rekan Bijak, mungkin sudah saatnya kita mengucapkan selamat tinggal kepada aplikasi yang mungkin pernah mewarnai hari-hari muda kita. Path memang sudah tutup, tetapi untuk segala kenangan yang ada membuat kita merasa kehilangannya. Jadi mulai hari ini, selamat tinggal, Path, dan terima kasih sudah mewarnai kehidupan kami generasi milenial!

path

Write a Comment

view all comments


Warning: Illegal string offset 'rules' in /home/forge/blog.danabijak.com/wordpress/wp-content/themes/portus-premium-theme/functions/filters.php on line 57

Warning: Illegal string offset 'rules' in /home/forge/blog.danabijak.com/wordpress/wp-content/themes/portus-premium-theme/functions/filters.php on line 62

%d bloggers like this: