Mengenal Christmas Truce, Keajaiban Natal di Tengah Perang Dunia 1

Perang Dunia 1 adalah salah satu peristiwa paling penting, sekaligus salah satu peristiwa paling mengerikan yang pernah terekam dalam sejarah kehidupan manusia. Namun, walau mengerikan, ada banyak cerita dari Perang Dunia 1 yang tidak dapat dilupakan, salah satunya adalah Christmas Truce, atau Gencatan Senjata Hari Natal.

Mengenal Christmas Truce, Keajaiban Natal di Tengah Perang Dunia 1

Mengenal Christmas Truce, Keajaiban Natal di Tengah Perang Dunia 1

Dalam Perang Dunia 1, ada banyak peristiwa, yang dimulai dari penembakan adipati utama dari Austria-Hungaria yakni Franz Ferdinand hingga invasi Kekaisaran Jerman ke Belgia dan Perancis, namun kejadian-kejadian tersebut hampir tidak ada yang semenarik kejadian Christmas TruceChristmas Truce adalah sebuah peristiwa malam natal di tengah perang parit di Perang Dunia 1, di mana saat itu kedua tentara, yakni tentara Inggris dan Jerman yang sedang berperang, tiba-tiba melakukan gencatan senjata sambil merayakan hari natal secara bersama.

Pada awalnya, Perang Dunia 1 diawali dengan pembunuhan Adipati Utama Franz Ferdinand dari Kekaisaran Austria-Hungaria, sehingga invasi-invasi pun dilakukan, seperti mulai dari invasi Austria-Hungaria ke Serbia, lalu Rusia menyerang Austria-Hungaria, Jerman menyerang Perancis dan Belgia, dan Perang Dunia pun terjadi. Di tahun 1914 pun, terjadi perang antara pasukan Jerman dan Inggris, selaku sekutu dari Perancis dan Rusia.

Perang pun terus berkecamuk, bahkan di hari natal sekalipun, namun tidak dengan pasukan Jerman dan Inggris di wilayah No Man’s Land. Di tanggal 24 Desember, tercatat bahwa terjadi gencatan senjata antara pasukan Jerman dan pasukan Inggris. Semua ini terjadi, pada awalnya Paus Benediktus XV di tanggal 7 Desember 1914, menyerukan agar negara-negara yang tengah berperang di Eropa untuk segera gencatan senjata terlebih dahulu di hari Natal demi tentaranya pulang dan menghormati hari Natal sebagai hari yang damai.

Christmas Truce

Sumber : sunshinecoastdaily.com.au

Namun, sayangnya hal itu ditolak oleh negara-negara, yang mungkin menolaknya karena takut adanya serangan-serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh musuh, dan jika tiba-tiba diserang di hari Natal, padahal tentara-tentara pun sedang gencatan senjata, maka habislah negara tersebut. Oleh karena itu, negara-negara tersebut menolak untuk gencatan senjata dan memilih untuk melanjutkan perang.

Tetapi, ternyata semangat natal pun tidak berhenti sampai disitu. 24 Desember 1914, di malam natal saat terjadi perang, para tentara melakukan kegiatan religius. Masing-masing tentara sama-sama menyanyikan lagu-lagu rohani, karena memang, saat itu banyak tentara dari kedua kubu, yakni Jerman dan Inggris, memang mayoritas bahkan hampir semuanya merupakan orang Kristen Protestan atau Katolik, sehingga keduanya pun juga merayakan hari Natal. Lagunya pun juga kurang lebih sama.

Malam natal itu, tentara Jerman yang sedang berada di parit-parit, menyanyikan lagu “Stille Nacht” atau lagu Malam Kudus dalam bahasa Indonesia. Lagu tersebut memang dikenal hampir seluruh orang Kristen. Ketika pasukan Jerman selesai bernyanyi lagi tersebut, orang Inggris pun mengenalinya dan bernyanyi “Silent Night”, dengan tentunya versi bahasa Inggris.

christmas truce

Sumber : Todayifoundout.com

Ketika saat itu juga, kedua pasukan pun berdamai dan gencatan senjata. Hal itu diawali oleh pasukan Jerman terlebih dahulu yang melambaikan tangan, dan pasukan Inggris juga melambaikan tangan. Setelah itu, kedua pasukan pun bertemu dan berjabat tangan. No Man’s Land pun seketika menjadi wilayah yang damai, padahal sebelumnya merupakan wilayah mematikan dan banyak yang tewas karena berada di wilayah tersebut.

Perdamaian tersebut pun bertambah ketika kedua kubu saling bercakap-cakap dengan mengatakan, “Selamat natal!” dalam bahasa Jerman atau bahasa Inggris. Bahkan, banyak dari orang Jerman tersebut yang bisa berbahasa Inggris, sehingga komunikasi pun tidak terlalu sulit. Belum lagi juga orang Perancis ikut berkomunikasi dengan tentara Jerman tersebut. Dalam beberapa waktu, para tentara pun saling bercakap-cakap dan saling memperkenalkan diri, dan bahkan ada juga yang bercerita tentang kehidupannya selama perang kepada kubu lawan.

Perdamaian pun dilanjutkan dengan acara tukar kado yang dilakukan oleh kedua kubu. Pertukaran kado ini tiba-tiba saja dilakukan. Hadiah-hadiahnya pun unik, mulai dari sosis, rokok, alkohol hingga cokelat. Pada hari itu pun menjadi hari yang sangat damai, menjadi salah satu hari gencatan senjata paling unik, karena gencatan senjata tersebut tidak dilakukan secara resmi, melainkan oleh karena hati nurani dari masing-masing pasukan.

christmas truce

Sumber : Expressandstar.com

Perdamaian tersebut dilanjutkan dengan permainan sepak bola, yang diawali oleh pasukan Inggris yang membawa sebuah bola. Permainan pun dilakukan secara cepat, dan bukannya 5 lawan 5 seperti futsal, atau pun 11 lawan 11 seperti sepak bola pada normalnya, namun bisa hingga 50 lawan 50. Permainan pun dilakukan oleh orang-orang Inggris, namun beberapa orang Jerman juga ikut bermain.

Ada juga salah satu tentara Inggris, yang memang aslinya adalah seorang pencukur rambut, membuka “salon” di tengah gencatan senjata, dan memberikan “promosi” gratis cukur rambut untuk kedua kubu. Dideskripsikan, saat itu sangatlah damai dan tenteram. Namun setelah itu, perang pun tetap dilanjutkan, karena para komandan yang menyerukan bahwa mereka datang bukan untuk berdamai, namun untuk berperang dan memenangkan perang.

christmas truce

Sumber : Flickr.com

Setelah kejadian ini, hampir tidak ada media dari kedua negara yang memberitakan tentang Christmas Truce, entah dengan alasan apa. Namun, New York Times pun akhirnya memberitakannya pada tanggal 31 Desember 1914, sekaligus dengan foto-fotonya, dan diikuti oleh media-media Inggris. Walau begitu, media-media di Perancis dan Jerman menganggap bahwa hal ini adalah pengkhianatan dan harus diberantas.

Melihat kejadian ini, kita bisa berkesimpulan bahwa pada akhirnya tetap terjadi perang, dan Perang Dunia 1 pun dimenangkan oleh pihak sekutu, oleh Inggris, Rusia dan Perancis, juga sekutu-sekutu lainnya yang ikut membantu, seperti Yunani, Jepang dan Serbia. Namun, hal yang bisa kita lihat lainnya, bahwa pada akhirnya manusia mempunyai hati nurani, dan perang pun terjadi hanya karena keegoisan semata.

Ketika manusia menginginkan sebuah perdamaian, perdamaian pun bisa saja terjadi. Christmas Truce ini seolah merupakan pertanda bahwa kalau pun terjadi perang, namun manusia sebenarnya tetap mempunyai hati nurani dan lebih menyanjung perdamaian daripada peperangan.

Perbedaan

Write a Comment

view all comments


Warning: Illegal string offset 'rules' in /home/forge/blog.danabijak.com/wordpress/wp-content/themes/portus-premium-theme/functions/filters.php on line 57

Warning: Illegal string offset 'rules' in /home/forge/blog.danabijak.com/wordpress/wp-content/themes/portus-premium-theme/functions/filters.php on line 62

%d bloggers like this: