Pasar Obligasi Indonesia Menguat Pasca Hasil Putusan MK

Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan Pemilihan Presiden 2019 pada Kamis 27 Juni 2019 kemarin. Majelis hakim memutuskan untuk menolak seluruhnya permohonan yang diajukan tim kuasa hukum pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Pasar Obligasi Indonesia Menguat Pasca Hasil Putusan MK

Pasar Obligasi Indonesia Menguat Pasca Hasil Putusan MK

Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi, maka memberikan kepastian bagi pasar modal Indonesia termasuk pasar obligasi yang selama ini cenderung wait and see terhadap kontestasi politik yang prosesnya tidak singkat.

Obligasi merupakan surat perjanjian atau sertifikat yang berisi mengenai perjanjian antara pemberi dana (investor) dengan yang akan memberikan dana (emiten) yang meyatakan bahwa seorang investor yang merupakan pemilik surat obligasi telah menginvestasikan dananya kepada emiten dengan perjanjian yang telah ada.

Lalu pasar obligasi sendiri adalah pasar yang memperdagangkan surat bukti hutang. Sistem yang dilakukan pada pasar obligasi ini yaitu pihak debitur yang telah meminjam modal, akan membayar kembali sesuai dengan jumlah uang yang telaah dipinjamnya, dengan ditambah sejumlah suku bunga, kepada pihak kreditor yang telah meminjamkan modal tersebut. Biasanya pasar obligasi, akan dipengaruhi oleh pasar saham, seperti saat harga saham naik, maka obligasi akan turun. Obligasi itu sendiri memiliki berbagai jenis, seperti obligasi negara, obligasi pemerintah daerah, dan obligasi korporasi.

Baca Juga: Tentang Investasi Obligasi

Pasar obligasiSumber: cnbcindonesia.com

Harga obligasi rupiah pemerintah dibuka menguat setelah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) menolak segala permohonan Tim Kuasa Prabowo-Sandi terhadap termohon, Komisi Pemilihan Umum (KPU). Keputusan MK tersebut seakan mengesahkan hasil hitungan pilpres yang menangani presiden pertahanan Joko Widodo dan wakil barunya Ma’ruf Amin.

Penguatan berlanjut dari kenaikan harga pada 27 Juni 2019 di mana harga surat utang negara (SUN) menguat di akhir perdagangan setelah keputusan MK dibacakan, berbalik dari koreksi yang terjadi di awal perdagangan. Naiknya SUN itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar utang pemerintah negara berkembang yang lain.

Menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield). Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. Seri acuan paling menguat adalah FR0078 yang bertenor 10 tahun dengan penurunan yield 6,9 basis poin (bps) menjadi 7,35%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Baca Juga: Mengenal tentang Pasar Finansial dan 6 Macam Pasar Finansial!

Pasar obligasiSumber: beritagar.id

Kedepannya, investor pasar SUN masih akan memperhatikan tiga fokus, yaitu rapat penentuan suku bunga AS (FOMC), Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan menuntukan suka bunga 7 days reverse repo rate (7DRRR) dan harga minyak.

Harga minyak mentah dunia yang sedang berkontraksi lumrah menjadi perhatian investor pasar keuangan domestik karena Indonesia adalah nett-importer minyak mentah dunia. Sehingga, pergerakan komoditas emas hitam tersebut menjadi krusial bagi APBN yang akan berdampak pada aktivitas perdagangan luar negeri dan nilai tukar rupiah.

Penguatan di pasar utang tidak seperti yang terjadi di pasar ekuitas dan rupiah di pasar valas, yang masing-masingnya turun 0,36% dan 0,32%. Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan terjadi di Brasil, China, India, Singapura, dan Thailand. Di negara maju, penguatan terjadi di pasar bund, OAT Perancis, gilt Inggris, JGB Jepang, dan US Treasury di AS.

Hal tersebut mencerminkan instrumen obligasi pemerintah negara maju masih diburu investor global di tengah kontraksi sentimen negatif pasar keuangan dunia.

Baca Juga: 6 Investasi Terbaik yang Bisa Dilakukan pada Tahun 2019

Jadi Rekan, itu adalah penguatan pasar obligasi yang terjadi setelah sidang putusan MK terkait Pemilu Pilpres kemarin. Semoga bermanfaat bagi Rekan dan orang terdekat Rekan Bijak!

Pasar obligasi

Write a Comment

view all comments


Warning: Illegal string offset 'rules' in /home/forge/blog.danabijak.com/wordpress/wp-content/themes/portus-premium-theme/functions/filters.php on line 57

Warning: Illegal string offset 'rules' in /home/forge/blog.danabijak.com/wordpress/wp-content/themes/portus-premium-theme/functions/filters.php on line 62

%d bloggers like this: